Sunday, January 4, 2009

Secret Life of Bees ( Sue Monk Kidd )

By. Sue Monk Kidd

August berkata,”Dengarkanlah aku sekarang, Lily, aku akan mengatakan sesuatu yang kuingin agar kau selalu mengingatnya ya?”

Raut mukanya menjadi serius. Bersungguh-sungguh. Kedua matanya tidak berkedip.

“Baiklah,” kataku, dan kurasakan getaran menuruni tulang belakang punggungku.

“Our lady bukanlah sesosok makhluk ajaib, seperti seorang ibu peri. Ia bukanlah sebuah patung di ruang tamu. Ia adalah sesuatu yang ada si salam dirimu. Kau mengerti yang kukatakan?”

“Our Lady ada di dalam diriku,” ulangku, tak yakin aku mengulanginya.

“Kau harus menemukan seorang Ibu di dalam dirimu sendiri. Kita semua harus. Bahksn kita sudah memiliki seorang ibu, kita harus mencari bagian dari diri kita ini di dalamnya.”

Berkatar belakang bagian Selatan Amerika tahun 1964, tahunnya Undang-Undang Hak Sipil dan pemberontakan melawan rasisme, The Secret of Bees Karya Sue Monk Kidd merupakan sebuah cerita yang kuat mengenai proses kedewasaan, kemampuan cinta mengubah hidup kita, dan kerinduan terhadap kesempurnaan feminitas universal yang acapkali menyerang. Dengan menyertakan kepedihan atas kehilangansesuatu, penghianatan , dan cinta yang pernah cukup, Kidd menunjukkan kekuatan para perempuan yang bersama-sama menyembuhkan luka-luka itu, untuk menjadi ibu bagi satu sama laindan bagi diri mereka sendiri, dan untuk menciptakan sebuah keluarga dan rumah yang sesungguhnya.

Terisolasi dalam kebun persik di South Carolina bersama seorang ayah yang menelantarkan dan bersikap kasar terhadapnya, Lily Owens yang berusia empat belas tahun telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk merindukan ibunya, Deborah, yang meninggal di tengah situasi yang ganjil saat Lily baru berumur empat tahun. Yang lebih buruk, ayahnya, T.Ray, mengatakan padanya bahwa Lily-lah yang tak sengaja membunuh ibunya.

Lily dibesarkan oleh Rosaleenn, pengasuh Afrika-Amerika-nya yang angkuh dan blak-blakan. Saat Rosqleen berusaha menggunakan hak barunya untuk ikut pemilu, ia diserang tiga orang rasis di kota dan kemudian malah ia yang dijebloskan ke dalam penjara. Lily bertekad kuat membebaskan dan akhirnya ia juga berhasil melarukan diri dari ayahnya. Ia membawa Rosaleen kabur dari penjara, dan berdua mereka menuju South Carolina untuk mencari kehidupan baru.

Tujuan mereka adalh Tuburon, South Carolina- sebuah kota yang tak mereka ketahui kecuali di dalam kotak yang dulu merupakan milik ibunya Lily yang terdapat petunjuk gambar berupa Perawan Maria berkulit hitam bertuliskan “Tiburon, South Carolina” di belakangnya. Di sana mereka tinggal bersama ti perempuan kakak beradik pemelihara lebah yang memuja Black Madonna. Di tempat inilah, dengan dikelilingi kekuatan Madonna, dengan dengungan-dengungan lebah, dan lingkaran perempuan-perempuan bijak berkulit hitam, Lily mencari jalan setapak menuju keutuhan dan kehidupan yang baru.

Terpikat oleh proses kedewsaan gadi sadari selatan ini, setiap orang akan merasa dikelilingi musim panas South Carolina yang panas dan satu dari saat-saat tak menentu di Amerika. Sebuah kisah tentang ibu yang hilang dan ditemukan, cinta, kejujuran, dan memaafkan, The Secret Life of Bees dengan berani menjelajahi luka-luka kehidupan menyingkap makna yang lebuh dalam tentang rumah dan kesederhanaan dalam memilih hal-hal penting yang akan menyelamatkan hidup kita.

Akhirnya, walau tak dapat menemukan ibu yang dirindukannya, Lily menemukan dan menjadi bagian dari masa lalu ibunya, menemukan sebuah sarang ibu-ibu yang baru, dan jatuh cinta dengan bunda alam raya.

Poem of William Blake:

O Rose, thou art sick!

The invisible worm,

That flies in the night,

In the howling storm,

Has found out thy bed

Of Crimson joy,

And his dark secret love

Does thy life destroy

Oh mawar, engkau sakit!

Cacing tak tampak,

Yang melayang di gelap malam,

Menembus badai yang meraung,

Telah menemu ranjangmu

Keriangan merah padam,

Dan cinta gelapnya yang diam-diam

Akan membuat hidupmu koyak.

Song of Bees

By.May

Place a beehive on my grave

And let the honey soak through.

When I’m dead and gone,

that’s what I want from you.

The streets of heaven are gold and sunny,

But I’ll stick with my plot and a pot of honey.

Place a beehive on my grave

And let the honey soak through.

Letakkan sebuah sarang lebah diatas kuburanku

Dan biarkan madunya membasahi semuanya.

Saat kumati dn pergi

Itulah yang kumau darimu.

Jalan-jalan di surga adalah emas dan disinari matahari

Tapi aku akan tetap bersama kebunku dan satu pot madu.

Letakkanlah sebuah sarang madu di atas kuburanku

Dan biarkan madunya membasahi semuanya.

Membaca novel ini, kita jadi lebih paham tentang sejarah dunia, biologi, budaya, hingga suatu keindahan sastra modern.

Korupsi

Di Indonesia, nampaknya perkembangan mengenai korupsi kian hari kian bertambah. Meskipun pemerintah sudah menanganinya dengan mendirikan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) tetapi hal itu tidak cukup membantu, hal itu bisa kita lihat dari berbagai kasus korupsi yang kian hari kian menjamur. Dari berbagai sektor, sudah banyak tercemar dengan kegiatan korupsi. Bahkan untuk mendapat pekerjaan, sekarang sudah suadah harus berani mencoba korupsi, dengan membayarkan sejumlah uang, seperti untuk menjadi polisi. Diperlukan lebih kurang Rp.50juta untuk masuk seleksi!. Mengapa hal ini bias terjadi? Apakah sebab yang sesungguhnya? Dan mampukah korupsi dihentikan?

Dari segi sematik, korupsi berasal dari bahasa Inggris, yaitu corrupt, yang berasal dari perpaduan dua kata dalam bahasa latin yaitu com yang berarti bersama-sama dan rumpere yang berarti pecah atau jebol. Istilah korupsi juga bisa dinyatakan sebagai suatu tindakan tidak jujur atau penyelewengan yang dilakuan karena adanya suatu pemberian. Dalam prakteknya, korupsi lebih dikenal dengan meerima uang yang ada hubungannya dengan jabatan, atau suatu kuasaa tanpa ada kesepakatan pertimbangan atau juga catatan administrasi.

Bila pengertian korupsi tersebut kemudianmemperhatikannya secara seksama dan mendalam, tentu kita semua menyadari betapa luas cakupan korupsi tersebut.

Misalnya seorang anak diminta untuk membeli gula oleh ibunya, dalam pembelian gula tersebut terdapat sisa uang. Si anak tersebut lantas menggunakan uang tersebut untuk membeli permen. Setelah sampai dirumah, si anak tidak berkata tentang sisa uang tersebut dan hanya menyerahkan gula pesanan ibunya. Kemudian ibunya bertanya kemanakh sisa uang pembelian gula itu. Dengan santai anak itu menjawab bahwa sisa uang itu ia pergunakan untuk membeli permen. Tetapi si ibu hanya senyum-senyum saja…

Apakah hal tersebut masuk dalam daftar korupsi? Ya jawabnya, tetapi si anak tidak perlu dilaporkan ke KPK kok… Karena itu cuma korupsi kecil yang ditolelir. Tetapi bila dilihat dari sisi psikologis, bukan tidak mungkin suatu saat nanti si anak akan mengulanginya dalam suatu skala yang lebih besar. Hal itu terjadi karena si anak merespon suatu tindakan yang sebenarnya salah, namun dinilai oleh orang lain yang menjadi suatu pedoman baginya, hal itu benar atau biasa-biasa saja.

Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi, itu karena si anak memiliki sifat-sifat dasar yang ditanamkan kepadanya melalui suatu bentuk proses sosialisasi yang salah. Contoh lagi, melalui berbagai cerita khas Indonesia seperti “Kancil Nyolong Timun”, alias si kancil mencuri mentimun. Dalam cerita tersebut, secara tidak sadar orang tua menananmkan suatu pendidikan yang salah, yakni menganggap kelakuan kancil mencuri timun di kebun Pak Tani adalah hal yang wajar, bahkan menarik untuk didongengkan. Serta kelakuan kancil menipu anjing yang dianggap sebagai suatu kecerdikan.

Salah satu yang menarik lagi adalah lagu milik orang Jawa ini,
“Kucing GARONG, meong…
Omahmu ngendi, ngerong…
Opo ra adem, kemul…
Entuke ko ngendi, NYOLONG…”
Meskipun lirik lagu tersebut menarik, dalam segi estetika bahasa Jawa, tetapi maknaya yang terkandung sangat menyesatkan persepsi, dimana si kucing “garong” atau “perampok” yang pekerjaannya “nyolong” alias mencuri itu dianggap hal yang lucu dan menarik, seolah-olah tak ada pesan moral yang terkandung dalam lagu tersebut.

Dua contoh mengenai si kancil dan si kucing diatas adalah kesalahan sosialisasi yang ditanamkan oleh orang tua kita (khususnya orang tua Jawa). Yang secara tidak sadar, hal itu mempengaruhi kondisi dasar psikologis anak. Jadi, sebagai orang tua, lain kali jangan memperkenalkan suatu budaya tanpa melihat sisi moralnya. Meskipun begitu, saat ini tanpa didongeng tentang si kancil saja anak sudah dapat menikmati begitu banyak sosialisasi yang buruk melalui media elektronik, seperti televisi. Bahkan tidak hanya korupsi, kekerasan saja sudah menjadi sajian bagi anak-anak tersebut. Bahayanya, anak tersebut belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Disinilah peran besar orang tua seharusnya dipertanyakan.

Tinjauan lain dari korupsi adalah dari sisi historisnya, bangsa
Indonesia pernah dijajah oleh Belanda. Timbul taktik Belanda menghancurkan kaum Jawa dengan taktik Aksara Jawa, dimana matinya huruf jawa atau aksara jawa dengan “dipangku”. Artinya mengangkat derajat beberapa orang untuk dijadikan sebagai anak buah mereka dengan memberikan gelar untuk meningkatkan status sosialnya. Semisal Mangku Bumi, Paku Buwana, Paku Alam, dst...

Dimasa mendekati jaman kemerdekaan contohnya, timbul stratifikasi menonjol dengan adanya kaum Priyayi. Mereka adalah kaum terpelajar, tetapi jebolan dari sekolah Belanda, dimana setelah mereka lulus pada tingkat tertentu, mereka dapat mencalonkan diri menjadi Priyayi-Priyayi yang bangga untuk bekerja pada pemerintahan Hindia Belanda. Meskipun hal itu wajar mengingat orang lemah (pribumi) harus berlindung dengan orang kuat (colonial). Dan kita juga harus sadar jika kita jarang untuk belajar menjadi orang baik, tapi kita selalu diajarkan menjadi orang kuat kuasanya (umumnya loh).

Kemudian ada juga masa kelam jaman orde baru, dimana tak adanya transparansi keuanggan negara, sehingga praktek korupsi menjadi suatu ladang aman bagi pejabat pemerintahan, yang subur dan sejahtera karena terlindung kediktaktoran. Bahkan hingga saat ini saja, masih banyak kasus korupsi yang belum terpecahkan, atau sengaja dijaga agar tidak pecah. Namun begitu, kita harus yakin bahwa seiring waktu berjalan yang semakin mengubur dalam suatu kejahatan, akan ada waktu dimana kejahatan itu akan tergali kembali oleh generasi mendatang.

Dari sisi historis tersebut, kita dapat melihat bahwasanya kita menggadaikan moral kita hanya untuk mendapatkan materi. Padahal itu adalah suatu moral penjilat, tak lain adalah menjilat kotoran untuk mendapatkan uang. Hal itu menjadi suatu budaya pada masa-masa selanjutnya, rela mengorbankan harga dirinya demi materi. Sehingga pada saat ini, suatu bentuk korupsi adalah sutu bentuk budaya yang dianggap biasa.

Menggapa korupsi dianggap biasa? Karena di berbagai sektor dan bidang, baik pemerintah maupun swasta banyak terjadi tindak penylewengannya korupsi ini. Korupsi dianggap bukan masalah sepanjang tidak diketahui. Sehingga korupsi menjadi budaya yang subur. Dan saat ini ternyata korupsi mengalami revolusi yang hebat pula. Kalau dahulu malu-malu kucing untuk korupsi, sekarang ini tidak korupsi tidak dapat stratifikasi tinggi. Sehingga korupsi menjadi suatu ajang kesepakatan bersama dan menjadi suatu bentuk korupsi massal.

Lantas bagaimana menghentikan praktek korupsi ini? Jawabnya adalah pembangunan moral dari berbagai bidang. Terutama menyangkut moral generasi muda bangsa ini. Karena merekalah yang nantinya membawa negara ini untuk lebih maju. Kemudian pembersihan korupsi yang juga harus harus disertai dengan kokohnya legimitasi hukum di Indonesia. Sehingga hukum lugas, tegas, dan jelas, dan mampu menakuti para koruptor.

Hukuman mati seperti di China mungkin menjadi end solution jika terbukti dari tahun ke tahun bentuk korupsi jadi tak terkendali. Tetapi kembali pada trias politica demokrasiya, jika eksekutif, legislative, dan yudikatif diisi orang yang benar. Tentu korupsi akan terhindarkan. Jadi, jangan asal memilih caleg lho ya!!! Ingat bahwa masa depan kita mugkin masih bisa terselamatkan. Pilih dari Parpol yang jelas tidak pernah korupsi, yang tanpa ragu membela hak rakyat, yang banyak program kerjanya terlaksana, yang bersih dari antek koruptoe, tapi pertanyaannya.

Yang mana????

Kill Corruptions!

GADIS

Nestville City st, 7.00 pm.

Langkahnya dipercepat, lebih cepat dan lebih cepat lagi. Dia menyusuri sepanjang Jalan Nestville dengan terburu-buru. Dia sedang menuju ke ujung pertigaan Jalan Nestville yang letaknya masih jauh terlihat di depan, disana sesorang telah menunggunya untuk berjumpa. Dia melihat ke arah barat, matahari mulai kembali ke peraduannya. Sebuah senyum mengambang di bibir seksinya.

Saat pertigaan Nestville tampak jelas di depan matanya, dia tersenyum. Entah apa yang ada di benaknya saat itu, karena dia terlihat bahagia sekaligus misterius. Padahal kekasihnya yang sedang menunggunya di seberang jalan itu terlihat bermuka masam.

Sekelompok preman dan pengamen jalanan bergerombol di sudut perempatan jalan. Salah seorang diantaranya adalah kekasih si gadis tadi, kekasihnya pun seorang preman. Kekasih yang baru dikenal sebulan itu memiliki badan gagah, tegap, dan bermuka tampan, namun preman tetaplah preman. Dengan dandanannya yang kumal dan tidak sedap dipandang mata itu. Sungguh sangat beruntung jika salah satu wanitanya adalah seorang gadis kelas 1 SMA, anak seorang pekerja tambang di Neoport.

Saat melihat kedatangan gadisnya, perasaan preman itu sangat campur aduk. Dia sangat marah karena sudah lebih dari seperempat jam dia telah menunggu di seberang jalan itu. Dan dengan muka yang cemberut ala preman, dia menyebrangi Jalan Nestville. Dia menyabrang tanpa memperhatikan jalan yang ramai. Sampai-sampai hampir saja dia tertabrak sebuah Baleno hitam yang melintas di pertigaan jalan dengan ngebut.

“Setan, punya mata ngak sih!” teriak pengemudi mobil itu ketika tepat merem mobilnya di depan tubuh si preman.

“Fuck!!!” jawab si preman tanpa ada rasa bersalah sambil mengacungkan jari tengahnya.

Si gadis yang melihat kekasihnya yang hampir tertabrak itu menjerit. Dia menjerit aneh, entah apa yang ia jeritkan. Karena saat dia sudah tersadar dari suatu hal yang lewat tadi. Kekasihnya sudah sampai di hadapannya. Bau alchohol bercampur rokok menusuk hidung gadis itu. Sebetulnya itulah yang amat dia sukai. Karena menurutnya, lelaki yang gagah itu ya seperti itu, suka minum-minum, merokok dan main... Yang itu dia paling membencinya.

Si Gadis langsung menciumnya dan tersenyum, dan bagai panas di musim kemarau yang diguyur gerimis. Kemarahan preman pun seolah-olah mereda dengan sendirinya. Gadis itu sangat pandai merayu, hanya dengan sebuah ciuman saja, seorang lelaki yang sangat ditakuti di Wall Nest takluk padanya.

“Kenapa kau terlambat?” Tanya si preman dengan nada tinggi.
“Ummm... Baby, sorry, lama yah? Aku tadi kesiangan, di sekolah banyak PR.” Rayu si gadis.
“Ya udah, sabtu depan kalau ga mau pulang malam. Pulang sekolah langsung kesini! Ga usah sliweran lagi”

“tenang Baby, besok khan minggu.” Jawab gadis sambil menggandeng si preman berjalan menuju ke utara.
“tunggu!” sela si preman.
“Apa bab?” Tanya si gadis.
Si preman melirik dan berkata “Apa kau lupa?”
“Oh iya.” Gadis itu ingat sesuatu. “Ini Baby.” Kata gadis itu sambil mengeluarkan sebungkus rokok Marlioboro dari tas punggungnya. "Dan aku juga bawa ini," katanya sambil memperlihatkan sebotol Jack Daniel.

Kemudian mereka berdua berjalan ke utara menuju Nest Garden. Bergandengan tangan dan sesekali berciuman. Matahari malu-malu mulai kembali ke peraduannya. Langit sore Nest City terlihat indah sekaligus misterius untuk dipandang.

Malam hari di Imperium Apartement, 4’th Floor, 11.45 pm.

Si gadis membuka pintu apartemennya, lalu menghidupkan lampu ruang tamu.

“click” bunyi saklar memecah keheningan.
“Dari mana saja kau?” Tanya seseorang yang duduk di sebuah sofa.
Si gadis tersentak kaget, tetapi dengan sigap dia berteriak kegirangan.
“Daddy, kapan pulang?”
“Dari-Mana-Saja-Kau?” kata ayahnya dengan tegas.
“Umm, maaf, Dad,” Gadis itu berfikir mencari sebuah alasan. “Tadi sore aku pikir akan menginap di rumah Angeline, tapi hingga jam ini aku rindu untuk tidur di rumah sendiri.”
Ayahnya diam, namun tetap menatapnya dengan pandangan tajam.
“Mungkin aku sudah ada firasat kalau Dady pulang hari ini.” Katanya sambil tersenyum. “Aku mau tidur, Dad. Night.” Katanya sambil menuju ke kamar.

Ayahnya hanya diam, dia pikir kata-kata anaknya memang masuk akal. Lalu dia menuju ke minibarnya untuk menenagkan pikirannya, lalu dia mengambil sebotol Jack Daniel dan meneguknya. Di tegukan kedua, dia berhenti meneguk Birnya, lalu menghitung jumlah Jack Daniel di rak.

“Tujuh, kupikir kemarin ada sembilan. Satu dua... tujuh dan delapan dengan yang kuminum ini. Kemana yang satunya lagi?” Pikirnya dengan penuh prasangka.

“Apakah anakku? dia gadis Bung.” Pikirnya membantah prasangka. Dia lalu menuju kamar anak gadisnya untuk menannyakan minumannya, dan saat hendak mengetuk pintu kamar anaknya itu dia berhenti sejenak, dia mengurungkan niatnya setelah sadar kalau jam di dinding sudah menujukkan pukul 12 malam.

“Besok saja.” Pikirnya. Dan dia melanjutkan minum-minumnya di meja minibar.

Si gadis dengan dada berkecamuk berdiri di balik pintu kamarnya. Dia pikir ayahnya sadar jika sebotol minumannya lenyap dari rak minibar. Namun ia sedikit lega, karena ayahnya tak jadi mengetuk pintu kamarnya. Setidaknya untuk sementara, hingga ia bisa mencari alasan yang masuk akal untuk esoknya.

***

Esok paginya di meja makan, si ayah mencoba berbicara dengan anak gadisnya. Sambil makan mereka meyaksikan Nesty News di channel 7.

“Nat, aku tahu kamu merasa sendiri di sini.” Kata ayahnya bersaing dengan suara TV. “Apa kau betul-betul merasa sendirian di sini, Nat?” Tanya ayah si gadis. Namun tak dijawab oleh anaknya itu.

“Pemirsa.” Suara wanita penyiar berita memecah keheningan mereka.”Sesosok mayat ditemukan di Nest Garden pagi ini. Mayat seorang pria ini diduga mati karena diracuni oleh seseoarang, malam tadi. Mayat pria yang diduga preman dari pertigaan Nestville St ini kemungkinan besar mati diracun, karena tubuhnya membiru dan mulutnya berbusa, kemungkinan tersangka adalah salah satu pacarnya. Ya, preman ini, menurut masyarakat setempat adalah seorang playboy, kini tersangka.”

“Click...” TV dimatikan oleh ayah si gadis.

“Nat?” Tanya ayah si gadis.

“Iya ayah.” Si gadis terlihat menenangkan dirinya. “Yah, bila kau tanyakan itu, harus kujawab apa. Aku takut melukaimu jika aku berkata jujur.” Jawab si gadis dengan cepat.

“Itu, sudah menjawab, Nat?”

Tak berselang lama, Ketukan keras menghentak pintu apartemen mereka, memecah keheningan sarapan pagi yang tegang itu.

“Buka pintu, ini Polisi Nestville!” teriak seseorang dari luar.

“Ya, tunggu!” jawab si ayah sambil memandang anak gadisnya yang tiba-tiba berwajah ketakutan.

Semuanya berjalan dengan cepat, si gadis ditangkap oleh polisi dengan tuduhan sebuah pembunuhan berencana. Dengan korbannya seorang preman, malam tadi di Nest Garden. Ayah si gadis terlihat sangat syok berat, dia tak menyangka jika anak semata wayangnya dijadikan tersangka oleh polisi.

***

Hari demi hari telah berlalu, proses pemeriksaan, reka ulang, dan persidanggan berjalan dengan apa adanya. Pidana yang dituduhkan pada si gadis hanyalah pidana ringan, dengan motif cemburu buta, karena si gadis dianggap masih berada di bawah umur, si gadis tidak dimasukkan ke penjara. Si gadis hanya dimasukkan ke panti rehabilitasi khusus remaja selama beberapa bulan, setelah itu dikembalikan lagi ke orang tuanya, tepatnya ke ayahnya.

Si gadis nampak begitu murung, matanya sayu dan badannya kurus kering. Ayahnya berulang kali menyemangatinya untuk melupakan masa lalunya. Meeskipun begitu, kondisinya tidak banyak berubah, Si gadis malah sering diserang berbagai penyakit, badannya sangat tidak stabil. Dia yang dulu terlihat sebagai gadis cantik dan enerjik, kini terlihat seperti gadis berpenyakit yang lemah.

Suatu hari ayahnya membawa si gadis ke rumah sakit untuk diperiksa,

“Ny.Natalie Anderson.” Panggil seoarang suster.

Si gadis yang lemah itu kemudian masuk dan diperiksa oleh dokter. Setelah diperiksa, ayah si gadis diberitahu penyakit apa yang menimpa putri semata wayangnya itu. Namun entah kenapa, si gadis tidak pernah diberitajukan apa penyakit yang menimpanya. Yang ia tahu, setiap hari ia harus menelan banyak obat dan harus rutin check kesehatan tiap bulannya di rumah sakit.

Hingga saat ulang tahun ke-20 tahun, si gadis tidak pernah diberitahu, si gadis juga tak pernah bertanya pada ayahnya, prihal penyakit apa yang menyerangnya. Hari berlalu dan berganti, namun obat dan check ke dokter tak pernah berhenti. Si gadis menjadi gadis yang sangat pendiam, hingga suatu hari ayahnya telah siap memberitahukan prihal penyakit putrinya pada putri tercintanaya itu.

“Nat, kau telah dewasa, kini saatnya kau tahu apa penyakitmu itu.” Kata ayahnya lirih pada si gadis yang berbaring lesu di tempat tidurnya. “Kau siap?”
“Yah,” Kata si gadis pelan. “Aku sudah tahu, yah, tak perlu kau katakana padakau prihal penyakit ini,”
“Jadi kau sudah tahu, Nat? tabahlah anakku, aku ada di sini bersamamu.”
“Iya, Yah, itulah kenapa aku membunuh preman brengsek itu! Karena dialah yang menularkannya.” Kata si gadis dengan nada menggebu-gebu.

“Oh, anakku...” Kata ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.
“Yah, aku sayang padamu yah, maafkan semua dosaku padamu, yah.” Kata si gadis sambil menangis.

Ayahnya tidak menjawab, karena menangis tersedu-sedu meratapi nasib anaknya. Kemudian tak ada suara percakapan diantara mereka, hanya suara tangis ayah si gadis yang terdengar di kamar itu. Kemudian semua terasa hening, lalu tiba-tiba si ayah berteriak sekeras-kerasnya sambil memeluk anak gadisnya, ayahnya berteriak dan berteriak hingga seluruh gedung apartemen bisa mendengar dan merasakan sakit hati yang dirasakannya, tangisan dan teriakkan begitu mengiris nurani, karena kini si gadis, putri tercintanya dan satu-satunya telah menyusul ibunya di suatu tempat yang jauh dari ayahnya itu.